Feeds:
Tulisan
Komentar

Wartawan, wartawan

Seorang lelaki muda berkacamata memasuki ruangan. Ia hendak mewawancarai seorang pejabat teras di kantor itu. Di ruangan itu, dengan pejabat teras, ia bercakap hangat.  Lima belas menit kira-kira. Saya tidak tahu apa yang dibicarakan mereka. Dengar punya dengar, pejabat teras di kantor itu diminta pendapatnya tentang isu hangat menjelang pemilu. Lalu, pendapatnya akan dimuat sebagai berita di sebuat koran tempat pemuda itu bekerja—bekerja sebagai wartawan. Usai mewawancara, pemuda berkacamata itu mendapat oleh-oleh secarik amplop yang diberikan oleh staf pejabat kantor itu.

Pada waktu dan tempat yang lain, seorang pemuda yang berperawakan kurus datang di suatu seminar pagi-pagi—saat yang lain masih terjebak macet di jalan-jalan kota Jakarta. Akunya, Ia datang atas permintaan panitia. Ia mendaku sebagai koordinator liputan dari para wartawan berbagai media, baik cetak maupun elektronik, yang akan meliput jalannya seminar pagi itu. Saat seminar belum menunjukkan tanda-tanda berakhir, pemuda kurus itu mendekati panitia, mengurus amplop-amplop yang akan diberikan pada para wartawan yang meliput seminar pagi itu.   

Wartawan. Sebuah profesi yang bagi saya sangat mengesankan. Ejaan namanya tidak jauh dengan ‘Hartawan’. Keduanya sama-sama kaya, namun berbeda pemilikan. Wartawan kaya warta, hartawan kaya harta. Bagi siapa saja, segala yang kaya tetap menyisakan kilau di mata. Saya sempat disilaukan pada wartawan. Saat kecil saya dulu, karena terpana oleh keagungan profesi itu: bercita-cita sebagai wartawan saat saya besar kelak.

Saya kecil punya anggapan sendiri tentang wartawan. Wartawan itu cerdas. Ia bisa menanya sesuatu dengan pertanyaan lugas dan mengalir, bahkan narasumber tidak bisa menjawabnya. Wartawan itu bisa dekat dengan para pejabat. Ia bisa menyanya informasi dari para pejabat dengan sedemikian akrab. Sebagaimana anak kecil yang lain, saya kecil tidak berpikiran kemampuan apa yang harus dimiliki seorang wartawan. Bagi saya kecil, menjadi wartawan adalah semacam keinginan. Atau bahkan angan-angan.

Bagi saya kecil, angan-angan—atau yang umumnya disebut cita-cita– punya hukumnya sendiri. Ia penuh dengan kepolosan, sebagaimana pikiran saya kecil waktu itu. Saya kecil punya citra ideal atas figur yang saya cita-citakan itu. Wartawan adalah figur ideal tanpa cela, yang bagi saya kecil layak untuk menjadi figur itu saat besar kemudian.

“Bu, bagaimana cara menjadi wartawan?” saya menanya kepada Bu Rahayu, guru bimbingan konseling saat saya beranjak kelas 2 SMP. Saya kecil ingin mengobati penasaran apakah menjadi wartawan punya pendidikan khusus—semacam sekolah kejuruan. Maklum, saat itu di lingkungan saya, sekolah kejuruan adalah jalan mulia untuk memperbaiki nasib hidup keluarga.

“Kalau mau jadi wartawan ya harus masuk SMA” begitu jawab guru saya itu dengan meyakinkan.

“Lantas, setelah lulus SMA?” Saya tambah penasaran dengan jawaban yang dilontarkan guru saya itu.

“Ya tinggal melamar kerja sebagai wartawan” sambungnya. Kira-kira begitu sepenggal dialog tentang cita-cita saya kecil dahulu. Masih jelas teringat, karena sejak itulah saya memaksa diri mendeklarisir cita-cita saya itu. “Mudah sekali jadi wartawan” ungkap saya dalam hati.

Tapi ternyata jadi wartawan tidak semudah itu. Yang saya maksud bukan pada jenjang pendidikan formal yang harus ditempuh, tapi pada pendidikan ‘informal’ yang harus dilalui sebagai wartawan. Bahwa menjadi wartawan ternyata tidak sekedar dikerumuni oleh banyaknya kelebihan-kelebihan (bagi saya kecil: cerdas) dan segala sesuatu yang menyenangkan (bagi saya kecil: bertemu leluasa dengan pejabat).

Wartawan itu kaya berita, tapi tidak sedikit wartawan yang ingin kaya harta, sonder berita. Wartawan itu kepribadian, bukan sekedar profesi—yang darinya seseorang bisa memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Wartawan itu objektif atas nilai sebuah berita (news value), bukan subjektif atas berita—bahwa peristiwa atau sumber berita layak diwartakan kalau menjanjikan keuntungan buat dirinya sendiri.

Sampai saat ini, saya masih memendam (walau tidak terlalu dalam) cita-cita kecil saya itu. Semoga saya bisa menjadi ‘wartawan’ walau tidak menjadi wartawan.

aku tidak percaya dengan ‘hari baik’. kebaikan itu melintasi waktu. tidak mengenal hari, jam, menit, detik. tidak hanya akrab dengan bilangan waktu tertentu: bulan, tahun, dasawarsa, dekade, abad, milenium. bahkan waktu lah yang melintasi kebaikan: kita, yang punya pengertian-pengertian atas waktu, memaknainya dengan kebaikan-kebaikan yang kita ukur sendiri. disini, sikap percaya kita akan ‘hari baik’ bukan sebagai sikap pasif atas nasib yang akan menemui kita. tapi kitalah yang menemui nasib itu: yang baik akan datang jika kita sengaja mendatangkannya.

Saya sengaja mendatangi halaman-halaman itu: koran Kompas di hari Sabtu. secermat mungkin saya jelajah isi halaman iklan di hari itu. harapan saya: ada tempat yang lowong bagi masa depan saya yang belum sempat terisi dengan kemungkinan nasib yang baik. saya jadi orang yang paling jeli membaca iklan: halaman yang kebanyakan orang lebih sering mentakacuhkan. saya tidak hendak mentakacuhkannya, yang berarti tidak peduli dengan nasib saya sendiri. sebagai jembatan nasib, saya jadi pembaca setia iklan Kompas di hari itu, bersabtu-sabtu. entah sudah berapa bulan Sabtu-sabtu itu saya lewati.

sore tadi, saya sempat kuwalahan. entah mengapa saya dibuat kelabakan oleh koran Kompas hari Sabtu. pasalnya, aku sudah membaca teliti beberapa kolom lowongan. ada yang sesuai dengan kualifikasi saya. saya membaca cermat-cermat: staf HRD dan instruktur/fasilitator/pelatih. saya berniat mengirim email atau surat lamaran ke beberapa tempat kerja yang meyiarkan lowongan di hari itu. namun, dalam kejadian yang sebenarnya sudah saya prediksi, Klasika Kompas yang sudah saya sisihkan dari tumpukan koran itu mendadak raib. tak ada jejak siapa yang memindahkan atau mengambil dari tempat semula–yang dengan rapi saya sembunyikan. saya memprediksi koran itu akan dipindahkan oleh tangan lain. maklum, saat ini saya bertinggal di tempat milik orang ramai, dimana banyak tangan yang akan menjamah koran itu. entah mengapa saya terlalu menggantung tinggi pada iklan itu. seakan nasib saya sudah berada di genggaman perusahaan/lembaga yang mengiklankan lowongannya di koran itu, di hari Sabtu.

saya khawatir pada diri saya sendiri, bahwa saya akan menggantungkan pada Sabtu. saya khawatir dengan tanpa sengaja memercayai bahwa nasib baik akan datang seiring dengan datangnya koran itu di hari Sabtu. yang berarti saya sedang menghalang-halangi kebaikan yang akan datang pada waktu yang lain di tempat yang tidak biasa saya pijaki. semoga tidak berlebihan.

Muasal Catatan ini

saya sempat ragu atas diri saya sendiri, lebih khususnya pada kemampuan saya. Namun, keraguan itu hanya bisa dibilas sementara lewat catatan kecil yang rutin saya buat. sungguh tulisan bisa sebagai obat, walau sebagai katarsis alakadarnya.

saya belajar psikologi, namun jangan ditanya seberapa baik kemampuanku dalam psikologi. kalau kau menanya pun hanya menyisa malu di raut muka saya. tentu kau tidak hendak membuat aku malu, bukan? 

sementara teman-teman saya sudah melangkah jauh dalam meniti karir, saya masih memilah-milah: karir mana yang hendak saya titi. sembari membuka-buka tajuk keahlian yang berdisiplin psikologi, saya bertambah ragu, mana yang hendak saya tuju. ada yang berkarya sebagai profesional HRD, pelatih, konselor, dosen, wiraswasta dan berderet bidang yang aku kira mereka menapakinya dengan penuh kepercayaan.  

sementara, usia bukanlah waktu yang berjalan mundur. lebih tepatnya, usia adalah jatah hidup yang kita hitung mundur. dan makin tinggi usia, makin rentan pula kita menerima kemunduran-kemunduran atas jatah normal. termasuk, sebagaimana saya sebut di atas tadi, jatah waktu dalam menapaki karir kehidupan.

siang tadi, saya sempat terkejut dan sedikit terobati keraguan yang merundung beberapa bulan ini.  Apa pasal?

saya menemui secarik file yang saya download di internet tentang alat tes multiple intelegences-nya Howard Gardner. aku mengisinya penuh seksama, segera. Hasilnya sedikit mengobati penasaran atas kemampuanku–lebih tepatnya kemampuan yang masih disembunyikan, untuk tidak mengatakan tidak diaktualisasikan. Dari grafik yang dimunculkan oleh alat test itu diketahui bahwa saya menonjol dalam tiga kemampuan: interpersonal, intrapersonal dan linguistik. artinya, saya masih punya kesempatan untuk meneruskan apa yang sudah saya perbuat: mempelajari psikologi, dan terus mengurai benang praktikalnya sembari tetap menulis catatan-catatan.

dalam kesengajaan yang hampir-hampir tidak saya buat, saya menekuni lagi menulis catatan kecil pada halaman blog ini, yang sudah saya benam selama satu tahun tiga bulan.  

Semoga tulisan ini bisa sebagai mukadimah untuk terus mengada!